Langsung ke konten utama

Setelah Mencoba Berbagai Distro, Akhirnya Kuputuskan Menginstall Debian


Tampilan Menu Aplikasi pada Debian Gnome

Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya pada kesempatan ini saya sempatkan untuk menulis kembali diblog ini. Sebelum menuju ke topik pembahasan, sedikit cerita tentang "distro hopping" yaitu suka pindah-pindah distribusi Linux atau lebih jelasnya gonta-ganti berbagai distro Linux. Sempat saya sendiri sering melakukan pindah-pindah distro untuk menemukan distro Linux yang sesuai dengan kebutuhan saya sendiri mulai dari Ubuntu, OpenSuse, Linux Mint, Tail OS, Pika OS dan terakhir adalah Debian.

Mengapa Debian? menurut pendapat saya pribadi Debian lebih ringan daripada Ubuntu. Distro Linux yang pertama kali saya kenal adalah Ubuntu. Ubuntu yang saya install pada perangkat saya sebelumnya adalah versi 18.04 Lts. Setelah beradaptasi dengan distro ini saya langsung tertarik dengan tampilannya yang menggunakan Environtment "Gnome". Saat itu dibandingkan dengan Windows 10 1809 Ubuntu versi ini terasa lebih ringan dalam hal konsumsi RAM dimana saat itu RAM laptop saya 4 Gb.

Setelah lama memakai Ubuntu 18, pada tahun-tahun selanjutnya saat dirilisnya versi Lts terbaru yaitu Ubuntu 20.04 saya mencoba update ke Ubuntu versi terbaru ini. Hasilnya setelah update laptop saya terasa berat saat menjalankan Ubuntu 20.04. Selanjutnya saya mencoba berbagai varian dari Ubuntu seperti Ubuntu Mate, Lubuntu, Xubuntu dan Ubuntu Budgie. Karena sudah tertarik dengan Ubuntu 18 akhirnya saya install ulang lagi kembali ke versi 18.04. Namun saya kembali menggunakan Windows 10 Ltsc lite karena butuh untuk menjalankan aplikasi yang beroperasi pada Windows.

Tahun 2023, Ubuntu Lts terbaru saat itu adalah versi 22.04. Akhirnya saya putuskan untuk menggunakan linux lagi varian dari Ubuntu yaitu Ubuntu Budgie yang tampilan desktopnya menyerupai MacOS. Jika masih awam kebanyakan yang melihat mengira OS laptop saya menggunakan MacOS. 

Tahun 2025 Laptop saya terjual dan sudah dapat gantinya, lalu saya coba install Ubuntu 22.04 namun menurut saya terasa berat dan kadang terjadi lag. Kemudian inilah yang membuat menjadi "Distro Hopping" pindah ke OpenSuse, Linux Mint, Tail Os dan sampai ke berbagai tampilan (Desktop Environment) seperti KDE, XFCE dan Cinnamon saya coba. Setelah survei pada laman Distrowatch saya menemukan istilah "independent". Maksud independent ini adalah distro yang bukan turunan dari distro lain atau lebih tepatnya induk dari distro. dan karena tampilan DE yang saya sukai adalah Gnome, akhirnya saya putuskan menggunakan Debian dengan DE gnome. 

Alasannya karena masa dukungannya lebih lama daripada OpenSuse versi Leap yang hanya satu tahun saja. Kemudian tampilan Gnome yang bersih dan ringkas juga menjadi alasannya. Dan karena sebelumnya sudah lama menggunakan Ubuntu yang merupakan turunan dari debian, jadi cara mengoperasikan terminalnya sama menggunakan perintah "sudo APT".

Debian saya gunakan untuk apa? untuk kegiatan sehari-hari saya gunakan untuk membuat karya digital seperti desain grafis, digital painting bahkan bermain game. Untuk cerita pengalaman dan hal-hal menarik lainnya nanti akan saya sambung pada artikel selanjutnya.

Sampai jumpa...


Cahyo Wijaya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Super Tux 2, Open Source Game Platform yang Bisa Dimainkan di Berbagai OS

Super Tux 2 merupakan salah satu game Platform gratis yang bisa dimainkan di berbagai Operating System Windows maupun Linux baik di PC, Laptop, maupun Smartphone. Game ini bersifat Open Source yaitu kodenya bersifat terbuka jadi bisa dimodifikasi dan didistribusikan oleh siapapun. Game Super Tux ini mirip dengan Super Mario Bros milik Nintendo dimana rintangan dan item-item yang ada dalam permainan seperti Jamur yang bisa mengubah karakter Mario menjadi besar. Tampilan gameplay game ini 2D s ide scrollin g yaitu dimainkan dengan tampilan kamera yang terlihat dari samping.   Alur cerita game ini juga mirip seperti Super Mario, dalam game Super Tux menceritakan seekor Penguin bernama Tux yang sedang mengunjungi temannya yang bernama Penny. Tiba-tiba datanglah Monster bernama Nolok kemudian memukul Tux lalu menculik Penny. Tux bergegas menyelamatkan Penny setelah terbangun dari pingsan. Cara main game Super Tux 2 bisa menggunakan Keyboard atau Gamepad untuk menjalankan karakter uta...

Instal Ubuntu Budgie di Tahun 2023, Bisa untuk Apa?

Ubuntu Budgie merupakan salah satu Operating System Linux dari distro Ubuntu Flavor. OS ini bersifat Open Source dimana semua orang dapat secara bebas untuk mengunduh, menginstal, dan mengubah kode sumber sistem operasi secara gratis. Ubuntu Budgie ini bisa dijadikan plihan bagi yang ingin migrasi menggunakan OS Linux untuk pertama kalinya. Di Tahun 2023 ini Ubuntu Budgie dapat berjalan lancar pada Laptop kelas Low-End , sehingga yang memiliki laptop Low-End keluaran 5 tahun yang lalu masih bisa mendapatkan Sistem Operasi terupdate. Setelah menginstal Ubuntu Budgie, bisa digunakan untuk apa? Sama halnya sistem operasi Windows, Ubuntu Budgie dapat digunakan untuk aktivitas seperti Office, browsing, bahkan mendesain dan juga bermain game. Berikut ini beberapa aktivitas menggunakan ubuntu budgie: 1. Mengerjakan tugas kantoran dengan Only Office Only Office memiliki tampilan yang mirip dengan Microsoft Office sehingga yang baru pertama kali menggunakannya bisa familiar dengan tampilan ...

Mini Piano Lite, bermain musik di Smartphone

Hai, selamat malam sahabat Jump. Semoga sehat selalu ya. Beberapa postingan sebelumnya membahas tentang software Linux, ya. Selanjutnya postingan kali ini kita bergeser sebentar ke salah satu aplikasi virtual piano yang ada di Android. Aplikasi ini bernama " Mini Piano Lite ". Meskipun namanya adalah piano, namun midi atau nada yang ada dalam aplikasi ini juga terdapat alat musik lain seperti terompet, violin, gitar dan masih banyak jenis alat musik dalam aplikasi ini. Mini Piano Lite dapat diunduh secara gratis di Playstore. Ukuran aplikasi ini terbilang cukup kecil hanya 39mb. Jadi tidak memakan banyak memori di Smartphone.  Kita juga bisa merekam dan menyimpan musik yang telah kita buat. Caranya dengan  menekan tombol record yang ada di sebelah kiri atas.