Langsung ke konten utama

Aplikasi Gratis yang Saya Pakai di OS Linux

Hai semua, selamat malam. Malam-malam CJump bingung mau nulis apa lagi ya? Akhirnya setelah menyalakan laptop yang mirip Macbook, mirip saja karena cuma laptop spek biasa yang pakai OS Ubuntu dengan tema Mac. Setelah laptop menyala akhirnya muncul ide sharing-sharing tentang aplikasi yang saya pakai di laptop Ubuntu ini ya, langsung saja scroll ke bawah:

1. Inkscape

Aplikasi ini saya pakai untuk membuat desain, sambil mencoba belajar dan membiasakan diri karena yang sebelumnya sering memakai aplikasi buatan Corel.

2. OnlyOffice

Selanjutnya aplikasi OnlyOffice ini yang selalu saya gunakan untuk menulis materi-materi sebelum
diposting di blog. Software ini tidak memerlukan lisensi berbayar alias gratis, install langsung pakai.

3. Gimp

Gimp digunakan untuk mengedit foto dan gambar bitmap. Sebagai pengganti Photoshop, aplikasi ini
bisa untuk mengganti background, mengolah gelap terang hingga digital imaging.

4. Gedit

Seperti Notepad aplikasi ini dipakai untuk mengolah data-data berupa text dan script. Ini sering saya
pakai untuk membuat catatan dan mengedit file program.

5. Chrome

Sepertinya teman-teman sudah familiar ya dengan aplikasi ini. Meskipun setelah menginstal Ubuntu
sudah terdapat mesin pencari Mozilla Firefox, saya memilih Chrome karena dapat menyesuaikan dengan tampilan tema pada Operating System.

6. LMMS

Aplikasi musik kreator atau untuk yang suka bermain musik digital. LMMS ini mirip dengan FL
Studio yang sama sama digunakan untuk membuat musik.

7. Krita

Aplikasi untuk meukis atau membuat digital art. Krita ini memiliki banyak pilihan brush yang siap
digunakan untuk menggambar.

 

Jadi itulah beberapa aplikasi yang saya gunakan bersama laptop ini yang awalnya cuma buat presentasi waktu kuliah dan sekarang masih dipakai untuk ketik mengetik. Apakah dari beberapa aplikasi diatas teman-teman sudah pernah mencobanya? Bisa share di kolom komentar ya.

    Jalan jalan ke kulineran

    Beli bakso, soto, sate, dan gudeg

    Jika memang itu beneran

    Kenyang deh...


Sampai jumpa di artikel selanjutnya :)

Komentar

  1. Selain Chrome aku ga tau semua itu, kalo ingin jadi pandai membuat video animasi2an ala emak2 gitu, kira2 musti download yg mana ya bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa mencoba krita kak, untuk membuat animasi anime bisa, atau bisa juga mencoba scynfig

      Hapus
  2. inkscape, krita, gimp bedanya dengan canva apa kak? kebetulan juga lg belajar desain. kira kira cocok yang mana yan untuk pemula

    BalasHapus
    Balasan
    1. bedanya dari gambar yang akan di olah, misal Gimp digunakan khusus utuk mengedit foto dari gelap terangnya kemudian mengganti background sama menggabungkan lebih dari satu foto. krita dikhususkan untuk melukis digital. kalau inkscape fungsinya untuk membuat desain seperti canva contohnya membuat poster. kalau belajar desain saat ini bisa memakai yang sedang trend saat ini yaitu canva. tetapi untuk kenyamanan pengoperasiannya kembali kepada diri masing masing.

      Hapus
    2. owh begitu ya.. saya coba dulu download. siapa tau lebih nyaman pake apk dari salah satu yang kak cahyo sebutkan. terima kasih banyak

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Setelah Mencoba Berbagai Distro, Akhirnya Kuputuskan Menginstall Debian

Tampilan Menu Aplikasi pada Debian Gnome Setelah sekian lama tidak menulis, akhirnya pada kesempatan ini saya sempatkan untuk menulis kembali diblog ini. Sebelum menuju ke topik pembahasan, sedikit cerita tentang " distro hopping " yaitu suka pindah-pindah distribusi Linux atau lebih jelasnya gonta-ganti berbagai distro Linux. Sempat saya sendiri sering melakukan pindah-pindah distro untuk menemukan distro Linux yang sesuai dengan kebutuhan saya sendiri mulai dari Ubuntu, OpenSuse, Linux Mint, Tail OS, Pika OS dan terakhir adalah Debian. Mengapa Debian? menurut pendapat saya pribadi Debian lebih ringan daripada Ubuntu. Distro Linux yang pertama kali saya kenal adalah Ubuntu. Ubuntu yang saya install pada perangkat saya sebelumnya adalah versi 18.04 Lts. Setelah beradaptasi dengan distro ini saya langsung tertarik dengan tampilannya yang menggunakan Environtment "Gnome". Saat itu dibandingkan dengan Windows 10 1809 Ubuntu versi ini terasa lebih ringan dalam hal konsu...

Lega Rasanya, Setelah Berhasil Install Printer di Debian

... Akhirnya dapat mencetak dokumen melalui OS ini, dimana sebelumnya selalu gagal dan printer tidak terdeteksi. Setelah mencari informasi tentang cara memasang printer di sistem operasi Debian. Akhirnya bisa ketemu setelah ngeprompt AI. Hasil dari AI menyarankan untuk menginstall driver berbagai macam printer yang mana sebelumnya saya hanya menginstall driver yang didapatkan dari website resmi printer itu sendiri. Seperti apa langkah-langkahnya? Berikut saya share tentang cara memasang printer di Debian, namun sebelum itu pastikan beberapa hal seperti dibawah ini: 1. Periksa Koneksi Printer Pastikan printer terhubung dengan benar ke komputer, baik melalui kabel USB atau jaringan Wi-Fi/LAN. Jika menggunakan USB, nyalakan printer terlebih dahulu sebelum melanjutkan. 2. Instal Paket CUPS CUPS (Common Unix Printing System) adalah layanan pencetakan standar di Linux. Sebagian besar distribusi Linux, termasuk Debian, menggunakannya. Perlu menginstal CUPS jika belum terpasang. Buka terminal ...

Speed Dreams: Game Balap Open-Source Terbaik yang Harus Kamu Coba Sekarang!

Sumber : Wikipedia Merasa game-game balap simulasi terlalu mahal? Kalau jawabannya iya, mungkin ini saatnya kamu kenalan dengan Speed Dreams. Game ini bukan cuma sekadar alternatif, tapi sebuah permata tersembunyi di dunia game balap, dan yang terbaik dari semuanya: ini gratis dan open-source! Apa Itu Speed Dreams dan Mengapa Begitu Istimewa? Mungkin saja belum pernah dengar namanya, tapi Speed Dreams punya sejarah yang cukup panjang. Game ini awalnya merupakan turunan (fork) dari game balap simulasi populer, TORCS. Namun, seiring waktu, Speed Dreams berevolusi jauh melampaui pendahulunya. Sumber: SourceForge.net Tim pengembang dan komunitasnya fokus pada satu hal: menghadirkan fisika balap yang seakurat mungkin. Ini bukan game balap ala-ala arcade di mana kamu bisa tancap gas di setiap tikungan. Di sini, kamu harus mengerti setiap detail: dari cara mengerem yang tepat, pemilihan racing line, hingga bagaimana mobil bereaksi terhadap permukaan jalan. Berikut adalah beberapa ...